Aspirasi dan Manuver Politik Gus Dur

Dalam kutipan di Pialang Rujuk di Bulan Syawal, Tajuk No. 25 TH I, 4 Februari 1999, disebutkan bahwa ada tiga hal yang tidak dapat diketahui secara pasti di dunia ini. Kelahiran, kematian dan Gus Dur. Sepertinya itulah cara paling tepat menggambarkan sosok Gus Dur. Penuh kejutan. Tidak dapat diprediksi serta pengambil keputusan yang fenomenal. Siapa yang sangka kiprah beliau sebagai ketua Umum PB NU sekaligus ketua dewan pembina partai politik PKB pada akhirnya memberi andil besar pada pergerakan sejarah Indonesia hingga mencapai posisi Presiden Republik Indonesia ke 4.

Masyarakat yang minimal telah remaja di awal milenium baru tentu mengetahui kepemimpinan Gus Dur yang sangat singkat. Berbagai spekulasi muncul terkait pergantian sosok pemimpin Indonesia no 1 di jamannya tersebut. Mendekati tokoh yang paling dibicarakan dan dikecam secara bersamaan, mantan presiden Soeharto, bergandengan tangan dengan Megawati, putri proklamator Soekarno yang memiliki alasan cukup kuat untuk menggantikan Soeharto. Berdialog dengan B.J. Habibie, presiden ke 3 yang telah diluluhlantakan dengan berbagai kesalahan Orde Baru yang bertumpu di pundaknya. Bersama Amien Rais, sosok MPR yang keukeuh mencalonkan Gus Dur sebagai calon Poros Tengah (diantara Megawati dan B.J. Habibie yang juga sudah memanas) dan di saat bersamaan dekat dengan Matori, ketua Umum PKB yang telah mengikrarkan diri untuk mendukung Megawati menjadi Presiden selanjutnya.

Gus Dur tidak ingin terpatok pada keputusan massal. Jikalaupun dirinya diminta untuk menjadi Presiden kelak, beliaupun akan menerima dengan bertanggung jawab. Walaupun partai politik binaannya telah mendukung calon sebelah. Kejadian ini cukup antik sekaligus menarik bukan?

Membaca buku ini semakin menegaskan bahwa Gus Dur memiliki strateginya sendiri untuk menuju Indonesia Baru. Tidak harus semata menguatkan barisan untuk menuju puncak kepemimpinan, namun justru menjadi jembatan antara pihak – pihak kuat yang berseberangan. Dirinya beranggapan semua adalah untuk Indonesia. Hingga dirinya menjadi Presiden ke 4 di tahun 1999 menggantikan B.J. Habibie. Walaupun singkat, kepemimpinannya berhasil mengentaskan hal – hal krusial Indonesia.

Salah duanya adalah pengembalian hak bermasyarakat bagi keluarga keturunan PKI dan hak warga Tionghoa yang hidup di Indonesia. Bicara tentang HAM dan segala macam, beliau adalah contoh soko guru yang tepat untuk itu.

Buku ini berisi berbagai tulisan dari beberapa pengamat dan jurnalis yang melihat Gus Dur serta menganalisa jika Gus Dur menjadi Presiden (saat tulisan di buku ini dibuat, Gus Dur belum menjadi presiden). Adapun ramalan dari beberapa tulisan mendekati presisi dan menjadi acuan ketika kita membaca buku ini di masa kini.

Oh ya, satu lagi. Satu hal yang sangat menarik dari Gus Dur adalah sikap humornya. Humor memang menjadi ciri khas dari pemilik nama K.H. Abdurrahman Wahid ini. Satu yang saya anggap humor cerdasnya adalah ketika beliau berkata, “Jadi politikus tidak butuh modal. Saya jadi presiden cuma modal dengkul. Itupun dengkulnya Amien Rais”. Yah, begitulah Gus Dur. Si Budayawan Humoris sekaligus pialang rujuk Internasional yang pernah mensponsori rujuk Palestina-Israel yang diawali melalui jabat tangan legendaris antara PM Israel Yitzhak Rabin dan Presiden Palestina, Yasser Arafat pada 1995.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *