Benazir Bhutto dalam Islam, Demokrasi dan Barat

18 oktober 2017 merupakan momentum bersejarah bagi pakistan. Benazir Bhutto, seorang perdana menteri wanita pertama yang dilengserkan oleh rezim militer kembali ke negaranya.

Berbagai percobaan pembunuhan kerap dihadapi semenjak kakinya menginjak bumi pertiwi tempat ia dilahirkan. Setidaknya itu terjadi sehari setelah Ia datang dan menewaskan 179 orang yang menjadi barikade manusia untuk memastikan Benazir Bhutto tetap hidup dan diharapkan mampu membawa pakistan menjadi negara demokratis kembali.

Benazir Bhutto menganggap Demokrasi bukanlah sebuah produk barat yang tidak bisa diaplikasikan dalam kehidupan bernegara dan agamanya. Dengan adanya keterbukaan maka akan menjadi pemicu utama untuk bersama meraih kebaikan penuh bagi pemerintahan. Tidak dengan kediktatoran.

Berbagai pergolakan ideologi bahkan hingga lingkup internasional bisa dikatakan salah satunya berawal dari negara Pakistan. Sebuah konflik global yang mengatasnamakan agama yang juga memberikan dampak traumatis bagi rakyatnya sendiri.

Rakyat yang menjadi fokus bagi pemimpin wanita ini menjadikan dirinya sebagai bidak saksi di dunia Internasional dalam memberikan kenyataan apa yang sebenarnya terjadi di timur tengah. Stigma yang diterima oleh masyarakat global tentang aksi terorisme adalah murni merupakan kepentingan ideologi yang menggunakan agama sebagai acuannya. Hingga satu kalimat darinya mengungkapkan, “Sepanjang sejarah, kejahatan terbesar terhadap kemanusiaan adalah kejahatan yang dilakukan atas nama Tuhan, memfanatikkan nilai nilai agama untuk membenarkan tindakan tercela terhadap peradaban”. Tujuan dari dilakukannya penolakan bagi Benazir Bhutto adalah perpecahan yang berujung kekacauan. Dalam kekacauan ini akan mengerucut pada kelanggengan pemerintahan diktator yang memberikan angin segar pada kaum ekstremis.

Hingga buku ini selesai dibuat dalam ketertekanan yang sangat besar bersama rekannya, Mark A. Siegel, Benazir Bhutto meregang nyawa pada tanggal 27 Desember 2007 dengan luka tembakan di lehernya. Pada akhirnya dunia tidak akan mengingat kekejaman yang merenggut nyawa Sang Srikandi Pakistan tapi pada apa yang diwariskan kepada dunia lewat buku ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *