Guratan Masa Cafe Lateo

Dibalik salah satu jajaran gedung tua, ada sebuah gedung bioskop kebanggan kota Denpasar. Sembari melihat ke atas dan melewatinya, kaki ini menelusuri relung sejarah yang terbingkai dalam deretan beberapa bangunan tua yang berdiri gagah di belakangnya.

Diantara bangunan itu, kita akan melihat sebuah tempat unik yang tersembul menarik dengan nuansa modern minimalis yang terang. Seakan berdiri mengimbangi kuatnya nostalgia jalan gunung semeru yang mengukir sejarah kota. Salah satu Jalan yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang kota Denpasar.

Nuansa putih dan cerah turut terasa dari sapaan ramah para pengunjung. Ditemani beberapa panganan sederhana serba unik dan menarik. Tampilan beberapa gelas ala percobaan kimia memandu menemani kisah kisah yang terpancar dari para pencerita. Cafe Lateo disebutnya. Para pecinta damai dan matcha terasa sangat akrab saat duduk di area ini. Sesekali sambil menyeruput Aurora Lemon Tea (lemon, lime, hibiscus tea, butterfly pea tea) dan menikmati sepiring pasta Osaka Aglio E OliĆ² dan Carbonara Nara.

Kisah berjalan lambat nan akrab. Malam menjelang. Dingin menghadang. Secangkir Genmaicha Geisha (sencha green tea, roasted brown rice, coated with matcha) datang dengan angkuh seakan mampu mentasbihkan diri untuk memberikan kehangatan bagi raga dan jiwa. Sambil berkawan dengan dinginnya Hojicha Green Tea latte (roasted green tea) yang menemani relung hati yang kadung panas dengan masa lalu. Layaknya nostalgia jalan yang kini menjadi saksi baru tumbuh kembangnya generasi Denpasar di Cafe Lateo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *