Menuju Ubud dan Maxone

Mentari hangat mulai menyambut para masyarakat Ubud di pagi hari. Bekas hujan menyisakan aroma petrichor yang masih merebak tatkala para masyarakat mulai beraktivitas. Nuansa sejuk masih terasa di sekitar hutan tempat dimana monyet – monyet bergelantungan dan masih memandang lelah pada keramaian di depan mereka. Suasana langit mulai membiru menyibak awan – awan yang terkumpul untuk kemudian turut terpecah, seakan memberikan kesempatan bagi mata untuk menikmati keindahan langit Ubud.

Desir angin mengalun mengaliri tengkuk kulit orang – orang yang melewati areal hutan dan membuat aroma kesejukan dapat dimaknai kedalam hati. Suara – suara rendah riuh mulai mengambil porsi dalam pembicaraan seorang – dua orang saat mentari memberikan hangatnya. Tidak hanya berbahasa lokal, suara dengan bahasa asing juga kerap terdengar. Tidak dipungkiri mengingat Ubud adalah satu kokasi di Ubud yang bahkan dikenal hingga keluar negeri. Sapaan ramah turut menyambut sembari diiringi senyum ramah antar masyarakat. Langkah kaki terasa ringan sembari menikmati suasana Ubud yang terasa bersahabat bagi siapapun.

Di pertengahan jalan, kita dapat menjumpai beberapa aktivitas masyarakat yang mulai naik intensitasnya. Mata ini menelusuri juga beberapa bangunan khas yang terbentang sepanjang jalan. Beberapa bangunan juga ada yang mengambil bentuk berbeda. Ada yang terasa nuansa minimalis yang nyaman di tengah bangunan – bangunan Ubud yang khas Bali. Sembari berbelok di jalan yang agak melengkung di depan Museum Arma, satu buah patung monyet besar memberi salam dari kejauhan. Melihat bentuk yang unik dari maskot monyet dan bangunan menjulang dengan nuansa yang berbeda, menggelitik hati dan memerintahkan kaki untuk melangkah ke tempat yang bernama MaxOne Ubud.

Sebelum mencapai areal Maxone, terdapat beberapa mobil yang juga turut menurunkan tamu untuk menuju Maxone. Beberapa mobil tersebut menuju ke parkiran basement yang di buat cukup lega sehingga mampu menampung beberapa mobil dan motor sekaligus.

Di lobby Maxone Ubud, sebuah hotel baru di tengah Ubud, kita disambut dengan senyum ramah para staff. Suasana lobby terasa hangat dengan desain pop art yang sangat berbeda dengan hotel – hotel disekitarnya. Baru saja duduk di tempat menunggu dengan bantalan empuk, kemudian datang David Suprayogi, Sales Manager, memberikan salam hangat dan mengundang untuk menuju ke arah rooftop. “Di atas ada pemandangan yang bagus loh, mari kita keatas”. Ungkapnya dengan ramah.

Setelah menekan tombol lift untuk menuju ke rooftop, pembicaraan berlanjut pada jumlah kapasitas kamar Maxone Ubud yang mencapai 66 kamar. Dibagi menjadi empat jenis kamar berdasarkan perbedaan luas kamar. Dari Happiness, Max Happiness, Warmth dan Max Warmth. Walaupun begitu, kamar tetap terasa sangat luas. Apalagi dengan desain kamar yang ceria dan colorfull sehingga memunculkan kenyamanan bagi yang ingin menginap di dalamnya. Sambil berbincang, iseng melihat www.instagram.com/maxoneubud dan melihat masih banyak lokasi yang menyenangkan untuk dijelajahi.

Sempat juga kita melewati beberapa titik unik di setiap lantai. Unik karena tempat itu dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi spot foto yang sangat instagramable. Keunikan lainnya terletak pada desain spot foto yang berbeda setiap lantai. Jadi mampu memberikan pilihan bagi para tamu untuk mengambil foto di lantai yang berbeda.

Ketika langkah kaki kita mencapai rooftop hotel, terlihat area luas yang terbagi atas kitchen, bar rooftop dan terakhir area kolam renang dengan pemandangan yang menakjubkan.

Posisi MaxOne Ubud yang cukup tinggi mampu memberikan pemandangan yang sangat menyejukkan hati sembari berenang dan sesekali mengambil foto bersama orang – orang terkasih. Berita baiknya, ternyata untuk dapat berenang di kolam rooftop ini bisa dilakukan oleh orang luar yang tidak harus menginap di MaxOne Ubud. Tentunya fasilitas yang di dapat adalah towel, light meal dan pastinya pemandangan area Ubud dari rooftop yang mampu memberikan kekaguman bagi siapapun yang melihatnya. Ini akan menjadi alasan utama anda untuk menikmati Ubud dari atas dan tanpa penghalang yang melintang.

Ketika menuju ke bar rooftop, nuansa natural mendominasi dengan dek kayu dan meja kursi bernuansa cokelat. Pesona bar dapat membuat betah duduk berlama – lama baik untuk bersantai maupun untuk bekerja. Saat kita akan memesan makanan di buku menu yang juga di desain unik, terlintas di kepala untuk menikmati makanan khas dari Maxone Ubud. “Silakan, di sini signaturenya adalah Bebek Sereh dengan varian tiga macam sambal. Anda pasti sangat suka” Ucap Vera, salah seorang staff di bar rooftop Maxone Ubud. Merasa ditantang, tentunya kita menyetujui anjuran tersebut. Sambil menunggu pesanan, kita kembali berbincang santai dengan David Suprayogi. “Maxone Ubud berada di center Ubud. Sehingga kalau mau ke monkey forest dan ke pasar Ubud, di sini adalah tempat yang sangat strategis” Jelasnya sambil menyeruput kopi Bali hitam khas Maxone Ubud.

Padanan suasana santai, langit biru dan desiran angin yang lembut membuat jiwa ini menjadi lebih menghargai berbagai kemegahan yang diberikan di alam Ubud. Seperti diberikan waktu untuk lebih memaknai apa yang baru saja terjadi, percakapan juga mengalun menjadi menyenangkan. Sesekali tawa menyela hingga Bebek Sereh Khas Maxone Ubud datang di meja. Aroma harum dengan rempah dan presentasi menu yang menarik seakan membuat diri menjadi liar untuk segera melahapnya. Sekalian untuk membuktikan bahwa makanan ini pasti sangat lezat. Selezat dari aroma yang telah menggugah selera. “Mari makan!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *