Penggagas Republik Yang Bernama Tan Malaka

Lewat Naar De Republiek Indonesia yang di tulis dalam pelariannya di Kanton, 1925, 3 tahun sebelum berkumandang Sumpah Pemuda, Tan Malaka membentangkan betapa pentingnya persatuan dan betapa berbahayanya perpecahan.

Ide dalam Naar De Republiek pada akhirnya di cetak biru dalam UUD 1945 dan Pancasila. Tan adalah seorang marxis sejati namun dalam aksi Ia adalah nasionalis sejati. Semata mata yang dilakukan oleh revolusioner kesepian ini adalah untuk merdeka dari penjajahan. 20 tahun dalam pelarian lintas negara membuat Tan menjadi sosok misterius setara legenda. Tulisannya menjadi panutan bagi pejuang revolusi di Asia hingga Indonesia.

Soekarno kerap membawa risalah nya hingga menuju proklamasi 1945. Namun entah beruntung atau sedang sial, nama Tan Malaka tidak pernah masuk arus utama revolusi. Hingga Ia tidak mengetahui bahwa Indonesia telah memerdekakan diri. Namanya dihapus dari buku sejarah sekolah pada rezim orde baru. Kisahnya dianggap tabu untuk dicari tahu. Tapi yang diwariskan Tan bukanlah sebuah ideologi yang harus ditelan mentah mentah melainkan sebuah semangat perjuangan dan pemikiran yang bisa mengantarkan kehidupan sosial negara ini merdeka 100 persen. Pada akhirnya, 20 tahun ‘merantau’, Tan Malaka harus merelakan dirinya dieksekusi di tanah air nya sendiri pada tahun 1948. “Dari dalam kubur Suara saya terdengar lebih keras daripada di atas bumi”, begitu ucapnya sebelum ditahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *